Oleh: Yudha Priyono, S.Pd., M.Pd. (Guru Bahasa Inggris SMKN 1 Warungasem)
“Belajar dengan baik”. Kalimat itu sekarang akrab dengan siswa karena selalu diucapkan saat upacara bendera hari Senin, pada sesi pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia. Kalimat tersebut merupakan salah satu dari lima ikrar. Ikrar lainya yaitu menghormati orang tua, menghormati guru, rukun sama teman, dan mencintai tanah air Indonesia. Dengan selalu membaca ikrar tersebut bersama sama, diharapkan terpatri dalam sanubari murid, diwujudkan dalam perbuatan. Sehingga saat lulus sekolah dan terjun di masyarakat, murid dengan lima karakter tersebut akan memberikan kontribusi yang besar pada diri, keluarga, lingkungan dan bangsanya.
Ikrar pertama yang disebutkan adalah belajar dengan baik. Ikrar ini sejalan dengan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang dicanangkan Kementrian Pendidikan Dasar dan Menenengah; gemar belajar. Secara khusus, belajar dengan baik berarti mempelajari materi materi pelajaran yang didapatkan di sekolah. Belajar materi tersebut baik di sekolah atau dirumah. “Baik” diartikan sebagi fokus dalam belajar atau dalam Bahasa Inggris disebut mindfulness (berkesadaran). Baik juga dapat diartikan memahami teknik teknik belajar yang efektif dan efisien. Konsistensi dalam belajar, tidak terganggu oleh gadget merupakan salah satu teknik belajar yang baik.
Selain baik dalam belajar materi materi sekolah, baik juga dapat diartikan pandai dalam belajar dari lingkunganya, baik lingkungan fisik maupun maya. Murid dapat belajar dari pengalaman pengalaman orang lain, baik yang dilihatnya langsung maupun lewat media, memilah milah mana yang baik dan yang buruk bagi dirinya, serta dapat introspeksi dan berefleksi dari pengalaman yang sudah diamati atau dijalaninya.
William H. Burton dan W.S. Winkel berpandangan bahwa belajar dengan baik tidak terbatas menghafal teori teori atau informasi saja, namun juga proses perubahan perilaku seseorang karena interaksi dengan lingkunganya, baik antar individu maupun dengan masyarakat. Dengan kata lain, ada perubahan positif dari seseorang karena belajar sesuatu, baik secara sengaja maupun tidak.
Ikrar selanjutnya adalah menghormati orang tua. Orang tua disini diartikan sebagai orang tua murid sendiri atau orang lain yang lebih tua dari murid itu sendiri. Memang, sikap menghormati orang tua akan lebih membumi ke murid jika diajarkan dan ditekankan orang tua masing masing. Jika murid sejak kecil sudah terdidik untuk menghormati orang tuanya, dia juga akan menghormati orang tua selain orang tuanya.
Namun tidak semua orang tua yang memiliki kemampuan, kesadaran dan tingkat pendidikan yang sama dalam mendidik anaknya untuk menghormati orang tua. Oleh karena itu, peran sekolah menjadi penting dalam menanamkan karakter hormat pada orang tua. Murid menghormati orang tuanya sendiri, dan orang lain Namun sikap menghormati orang tua tidak kemudian membuat anak arogan dan semaunya terhadap yang lebih muda. Sikap atau tindakan menghormati orang tua antara lain; berbicara dengan lembut, berbuat baik, menaati nasehat, menjaga nama baik dan mendoakan.
Ikrar selanjutnya adalah menghormati guru. Dalam lingkup sempit, guru adalah seseorang yang mengajar dan mendidik murid di sekolah. Dalam arti luas guru adalah seseorang yang memberikan murid pengalaman hidup baru di luar sekolah. Menghormati guru adalah karakter yang mulia, Karena mereka memberikan hal hal yang baik untuk bekal hidup mereka. Tidak boleh memandang remeh kepada guru hanya karena secara fisik dan ekonomi kalah dengan sang murid, namun hormati guru karena ilmu baik yang mereka berikan.
Fenomena sekarang, banyak siswa tidak menghormati gurunya dengan melakukan kekerasan fisik, perkataan yang menghina, hanya karena sang guru bermaksud mendisiplinkan mereka. Sehingga ikrar “ menghormati guru” harus selalu diucapkan setiap hari Senin saat upacara supaya selalu terpatri dalam sanubari murid. Disertai dengan pemahaman kepada murid di setiap kesempatan oleh pendidik akan pentingya hal tersebut, dan konsekuensi yang akan didapatkan jika melanggarnya.
Ada beberapa cara dalam menghormati guru; memberi salam ketika bertemu, mendengarkan dengan seksama saat guru menyampaikan materi, berbicara dengan sopan, mengikuti aturan, dan mendoakan untuk kebaikanya. Bagi beberapa murid yang belum terbiasa dengan hal hal tersebut, maka tugas pendidik untuk selalu mengingatkan dan mengajarkan.
Rukun sama teman menjadi ikrar selanjutnya. Lebih baik memiliki banyak teman daripada banyak musuh. Peribahasa mengatakan “ Seribu Kawan Terlalu Sedikit, Satu Musuh Terlalu banyak”. Memiliki banyak teman sangat bermanfaat bagi kehidupan seseorang. Suatu tugas atau pekerjaan akan ringan jika dikerjakan bersama sama. Selain itu, jika seseorang membutuhkan bantuan, akan banyak yang dapat dimintai pertolongan karena memiliki banyak teman. Tentu saja pertemanan itu untuk hal hal yang positif, tidak melanggar norma sosial, agama dan hukum.
Beberapa usaha untuk dapat rukun sama teman antara lain saling menghargai, suka berbagi dan memaafkan. Murid harus dapat menghargai perbedaan teman temanya baik pemikiran maupun fisik. Suka berbagi cerita, makanan akan membuat pertemanan semakin erat. Yang terakhir, mudah memaafkan jika ada teman yang salah dan meminta maaf, baik kesalahan yang disengaja maupun tidak.
Ikrar yang terakhir adalah mencintai tanah air Indonesia. Cinta tanah air adalah perasaan bangga setulusnya memiliki bangsa dan Negara Indonesia tempat lahir dan tinggal. Apapun yang terjadi Indonesia adalah tempat murid lahir, makan dan minum. Apapun yang kurang tepat di tanah air ini, jangan mengkhianati Ibu Pertiwi. Daripada sekedar menyalahkan Republik ini, lebih baik berbuat yang terbaik untuk kemajuan bangsa. Belajar dengan sungguh sungguh, berakhlak mulia dan memiliki kemampuan yang memadai untuk ikut serta memperbaiki dan memajukan bangsa.
Tidak boleh dilupakan adalah memberikan keteladanan pada murid. Tidak hanya menuntut pada murid saja, tapi juga memberi contoh implementasi ikrar tersebut. Misalnya, Saat murid diminta untuk menghormati guru, guru juga harus menghargai murid. Apa yang dilakukan guru dapat menjadi inspirasi bagi murid, dan tidak jarang mencontohnya.


