Literasi

Literasi Guru & Siswa

P5 Mengasah Softskill Siswa

Oleh: Yudha Priyono, S.Pd. (Guru Bahasa Inggris SMKN 1 Warungasem)

            Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menjadi salah satu pembeda dari kurikulum kurikulum sebelum kurikulum merdeka. Pembelajaran projek medapat alokasi jam tersendiri dan masuk dalam kegiatan intrasekolah. Output dari pembelajaran tersebut, siswa diharapkan menjiwai nilai nilai pancasila seperti beriman bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, Berkebinekaan Global, Gotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif.

            Siswa bermental pancasila akan siap dalam menghadapai perubahan zaman tetap tetap berakhlaq mulia dan memegang nilai nilai luhur budaya bangsa. Nilai nilai dalam pancasila juga sejalan dengan keahlihan mental atau softskill yang dibutuhkan di era 4.0; komunikasi, kolaborasi, kreatif dan berpikir kritis.

            Di sekolah penulis sendiri, SMK Negeri 1 Warungasem, pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajara Pancasila (P5), sudah memasuki semester kedua untuk kelas X. Dari beberapa tema yang terdapat dalam panduan, satu tema sudah dilaksanakan yaitu gaya hidup berkelanjutan. Kegiatan yang dipilih yaitu pengelolaan sampah menjadi ecobrick. Siswa mendapatkan teori teori tentang pengelaolaan sampah plastik, kemudian dilanjutkan dengan praktik.

            Kegiatan tersebut, dengan arahan dari guru, akan menamkan nilai nilai pelajar pancasila. Saat akan memulai kegiatan siswa dan guru berdoa memohon kepada Tuhan supaya diberi kelancaran dalam mengerjakan tugas tugas. Hal tersebut akan selalu mengingatkan siswa untuk selalu meningat tuhan, sehingga akan selalu mengingat larangan larangaNYA dan melaksankan segala perintahNYA.

            Saat menyusun ecobrick untuk dibentuk menjadi kursi dan meja, dibutuhkan kerjasama dalam kelompok. Siswa dilatih untuk bekerjasama atau bergotong royong dan mandiri dalam kelompoknya untuk menyelesaikan projeknya. Siswa dilatih untuk mengedepankan kepentingan bersama daripada ego pribadi. Selain itu siswa dilatih untuk berkomunikasi dengan kelompoknya, berbagi argumentasi, mempertahankan pendapat dan menyetujui pendapat. Keahlihan ini masuk dalam keahlihan yang dibutuhkan dalam abad 21, era 4.0, yaitu kolaborasi dan komunikasi. Guru mengamati, berkeliling seraya memberikan pendapat atau masukan jika diperlukan.

            Saat membuat ecobrick dan menyusunnya menjadi perlengkapan, misalnya meja dan kursi, siswa berpikir bagaimana cara merekatkanya, membentuknya dan bentuknya. Kegiatan ini melatih siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Kreatif dalam membentuk ecobrick menjadi suatu perlengkapan dan berpikir kritis dalam menemukan solusi dari permasalahan yang ada. Masalah masalah yang muncul misalnya bagaimana memadatkan potongan potongan sampah plastik kedalam botol air mineral bekas sehingga mencapai berat ideal yang diperlukan. Selain itu, jika ada kekurangan bahan dan alat dalam merangkainya, siswa juga harus berpikir bagaimana pemecahan masalahnya. Sehingga kemampuan softskill siswa dalam berpikir kritis dan kreatif terasah dalam kegiatan ini. Guru mendampingi siswa dalam memecahkan masalah.